Jamu
dipercaya berasal dari sekitar 1300 tahun lalu pada saat zaman kerajaan Mataram
kuno. Hal ini semakin diperkuat dengan berbagai temuan dari “cobek dan ulekan”
prasejarah saat itu yang ditemukan di situs arkeologi Liyangan yang berlokasi
di lereng gunung Sindoro, Jawa Tengah. Hingga saat ini budaya menggunakan alat
tersebut masih banyak diproduksi dan digunakan oleh masyarakat baik untuk
membuat ramuan ataupun untuk keperluan rumah tangga.
Ramuan
pengobatan tradisional ini sudah digunakan oleh bangsa Indonesia sejak zaman
pra sejarah. Hal ini banyak didukung oleh bukti-bukti temuan dari para pakar
arkeolog yang menemukan berbagai artefak dan berbagai peralatan yang terbuat
dari batu untuk pembuatan aneka bahan ramuan tradisional. Banyak temuan ini
ditemukan di Yogyakarta dan Surakarta seperti di candi Borobudur pada relief
Karmawipangga, candi Prambanan, candi Brambang, dan beberapa lokasi lainnya.
Konon pada saat itu, rahasia kesehatan dan kesaktian para pendekar dan
petinggi-petinggi kerajaan berasal dari latihan, seperti bersemedi dan juga
mengkonsumsi beberapa ramuan.
Jamu
juga banyak digunakan oleh para putri raja sebagai rahasia kecantikan mereka,
yang terkenal adalah ramuan lulur. Hal ini juga semakin diperkuat dengan gambar
relief pohon Kalpataru, sebuah pohon yang merupakan symbol dari kekekalan dan
abadi. Pada Candi Borobudur ditemukan juga relief gambar orang sedang
“mengulek” menggunakan cobek dan ulekan, seorang yang seperti tabib sedang
mengobati dan memijat pasiennya, dan para penjual minuman jamu gendong.
Tradisi
menjual ramuan obat tradisional gendong masih bertahan hingga saat ini meski
sekarang sudah mulai jarang ditemukan terutama di kota-kota besar. Bahkan saat
ini para penjual jamu gendong justru kebanyakan adalah mereka yang sudah
berusia lanjut. Akankah budaya ini punah? Semoga saja tidak. Kita bisa menjaga
warisan budaya ini dengan berbagai cara seperti setidaknya membeli
produk-produk mereka yang otomatis akan membantu secara perekonomian mereka
sehingga jamu masih merupakan salah satu mata pencaharian yang menghasilkan.
Seiring
dengan perkembangan zaman, dimana saat ini orang-orang lebih menyukai sesuatu
yang praktis bahkan pada jamu sekalipun, maka para pembuat ramuan tradisional
atau produsen jamu pun mencari akal bagaimana agar produk mereka bisa tetap
bertahan dan dapat digunakan oleh masyarakat. Pada zaman dahulu jamu biasa
menggunakan ramuan yang dihaluskan ataupun hasil rebusan dari beberapa bahan
alami, tetapi sekarang juga banyak yang menggunakan alat modern untuk
memproduksinya sehingga berbentuk kapsul dan pil. Sehingga jamu yang dahulu
identik dengan “rasa pahit” karena harus diminum untuk mengkonsumsinya sekarang
sudah bergeser menjadi cara yang lebih praktis mendekati produk obat dan
herbal.
Bahan-bahan
yang digunakan pun masih sama, yaitu menggunakan bahan alami. Hanya saja untuk
peredaran jamu “modern” saat ini lebih diperketat dengan aturan pemerintah yang
mengharuskan para produsen melakukan verifikasi uji coba di BPOM. Wajar saja,
hal ini demi keamanan akan bahan-bahan yang digunakan karena tidak bisa
dipungkiri ada beberapa produsen nakal yang menggunakan zat kimia terlarang
dalam prosesnya, hal ini pun berlaku untuk produk-produk herbal. Jadi mari kita
budayakan tradisi dari obat herbal khas Indonesia ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar